#7 : Bicara soal iklim

Gila, bumi makin panas, dan panasnya ini sudah keterlaluan. Sangat keterlaluan. Panas yang sudah diluar kebiasaan ini membuat saya penasaran sehingga saya ketik “bumi makin panas” di google sebagai keyword-nya. 0,15 detik kemudian munculah 308,000 opini, berita, dan lain sebagainya. Banyak postingan-postingan menarik mengenai keyword yang saya ketik di google, tapi ada 1 postingan yang paling menarik perhatian saya: suhu bumi meningkat 1 derajat fahrenheit atau sekitar 0.6 (ada yang mengatakan 0,74) derajat celsius selama seabad terakhir.

Fakta lain yang membuat saya ngeri adalah Indonesia termasuk penghasil emisi “gas rumah kaca” terbesar setelah AS dan Cina. Karbondioksida, metan, nitro oksida, dan gas-gas pencemar lainnya terlepas dalam jumlah yang amat besar ke udara, mengental, dan menyesaki atmosfer bumi. Maka terjadilah “Efek rumah kaca” tersebut: panas matahari yang diterima bumi tidak dapat lagi dipantulkan keluar dari atmosfer sesuai hukum alam karena membentuk selubung gas-gas pencemar tersebut. Pada titik ini munculah pemanasan global atau global warming. Pemanasan global inilah yang mendorong perubahan iklim atau climate change menjadi semakin ekstrim.

Menurut para Ilmuwan, perubahan iklim terjadi akibat aktivitas manusia dalam 2 abad terakhir yang secara vulgar dan melanggar hukum alam. Demi kenyamanan dan peningkatan taraf hidup, umat manusia–terutama di negara-negara maju–menggunakan bahan bakar fosil habis-habisan sembari menebang hutan dan mengabaikan lingkungan. Indonesia termasuk negara yang banyak terjadi penebangan liar, kebakaran hutan, pembukaan hutan untuk perkebunan, pertambangan, dan lain-lain. Sebagai negara tropis, Indonesia termasuk penyumbang utama dalam perubahan iklim sekaligus paling rentan terhadap dampak yang ditimbulkan.

Saya jadi teringat bencana Banjir yang baru saja menimpa Brazil dan Australia. tentu ini juga salah satu dampak dari perubahan iklim, sebab perubahan iklim juga meningkatkan curah hujan sekitar 2-3 persen pertahun dalam periode yang lebih pendek.

Climate change ini menjadi ancaman yang nyata bagi setiap orang dan setiap negara, utamanya terkait krisis pangan dan air bersih. Hal ini merambat pada bidang pertanian yang kemudian berdampak pada persoalan pangan dan akhirnya berujung pada masalah ekonomi, seperti naiknya harga cabe. Dalam hal ini pembaca tentu lebih tau dari saya 😀

Dampak lainnya dari perubahan iklim ini berupa semakin hangatnya air laut. Ini sangat mempengaruhi keaneka ragaman kehidupan laut dan memberi tekanan lebih pada terumbu karang yang sudah terancam punah. Dan jangan lupa, perubahan iklim juga menimbulkan naiknya permukaan air laut. Tinggi muka laut di seluruh dunia telah meningkat 10-25 cm (4-10 inchi) selama abad ke-20. Para ilmuan IPCC (Intergrovermental Panel On Climate Change) memperkirakan peningkatan akan bertambah sekitar 9-88 cm (4-35 inchi) pada abad ke-21. Apabila kenaikan permukaan laut mencapai 100 cm (40 inchi) maka 6 persen daerah di Belanda, 17,5 persen daerah di Bangladesh, dan ribuan pulau-pulau di dunia akan tenggelam. Mengerikan. Apalagi bagi orang yang tidak tau berenang.

Prediksi saya, jika bumi tetap seperti ini, mungkin pada akhir abad atau bisa saja kurang, bumi akan menjadi dunia atlantis disebabkan mencairnya gunung-gunung es yang pada awalnya bertapa di kutub utara dan kutub selatan. Tunggu, Yang saya maksud dengan dunia atlantis disini bukanlah dunia atlantis seperti yang digambarkan di cerita-cerita fiktif itu, tapi maksudnya kota-kota di bumi ini bakal tenggelam dalam sebuah ember raksasa bernama dunia.

Nah, ketika planet bumi terkena penyakit osteoporosis stadium 3 ini, saya jadi teringat petikan lirik lagu Ebiet G. Ade:

“…Mengapa di tanahku terjadi bencana,
Mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita
Yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa.
Atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita.”

Lalu bagaimana cara kita menyelamatkan–atau mengobati–bumi ini? Ada banyak cara, dan sepertinya para pembaca sudah tau semua: dari 4R (Reduce, Reuse, Recycle, and Replant), hemat energi, hemat air, gunakan angkutan umum, hinggal hal yang paling sederhana: berjalan. Bukankah dengan berjalan kita turut mengurangi polusi?

Oya, bicara soal cara menyelamatkan bumi ini, saya jadi teringat akan komunitas PSG (pemulung sampah gaul) di SMA 3 Annuqayah. Komunitas kreatif ini patut di acungi jempol, Sebab selain turut menyelematkan bumi, komunitas ini mendaur-ulang plastik menjadi berbagai bentuk tas yang–jujur–keren. It’s so creative, isn’t it?

Sudah saatnya kita turut berperan dalam “proyek penyelamatan bumi” ini. Sekecil apapun yang kita lakukan sekarang, pasti akan berpengaruh pada masa depan. Bukankah 1000 langkah berawal dari 1 langkah?

Heal the world, save our earth 🙂

Advertisements
  1. #1 by alid abdul on February 2, 2011 - 12:25

    iklim memang kacauuu,,, siang panas, sore ujan.

    kesal kalau kita sudah berusaha menerapkan 3R (klo gue 3R aja, soalnya blom pernah replant hehe), liat orang buang sampah sembarang, gue merasa sia-sia kalau bertindak sendirian….

    • #2 by apokpak on February 7, 2011 - 19:22

      lebih baik daripada ga bertindak bukan? 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: